Senin, 30 Juli 2018

Terapi eksaserbasi akut PPOK dan cor pulmonale


Take Home Farmakoterapi 2

Disusun Oleh :
Antonia Adeleide Anutopi
17/417690/PFA/01780



Program Magister Farmasi Klinik
Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada
2017

1.    Subyek:
Tuan Mukiyo 60 tahun.
Keluhan:
a.    sesak nafas yang memburuk sejak 2 hari yang lalu disertai batuk berdahak yang banyak,
b.    demam
merokok sejak umur 18 tahun, dan masih merokok sesekali.
Obyek:
Sputum purulent dengan sesak nafas yang meningkat.
Diagnosa eksaserbasi akut PPOK, cor pulmonale.
Assesment:
Klasifikasi keparahan grade C


Plan:
a.    Antibiotik yang tepat untuk pasien: Golongan Fluoroquinolon (Ciprofloxacin, Levofloxacin dosis tinggi).
Penjelasannya:

1)    Tanda-tanda pasien mengalami eksaserbasi yaitu dilihat dari gejala yang dialami oleh pasien seperti: batuk atau sesak bertambah, sputum bertambah dan berubah warna. Pasien didiagnosa eksaserbasi akut. Menurut PDPI tahun 2003, pasien masuk dalam kategori eksaserbasi berat karena memiliki tiga gejala eksaserbasi. Pasien yang mengalami eksaserbasi tingkat sedang-berat sebaiknya dirawat inap, dimana pemberian obatnya maksimal diberikan dengan drip, intravena, dan nebuliser (PDPI, 2003).
2)    Antibiotik yang dapat diberikan ketika dirawat di rumah sakit:
a)    Amoksilin dan klavulanat
b)    Sefalosporin generasi II dan III injeksi
c)    Kuinolon per oral
Ditambah dengan yang anti pseudomonas:
a)    Aminoglikose per injeksi
b)    Kuinolon per injeksi
c)    Sefalosporin generasi IV per injeksi
(PDPI, 2003).
3)    Pasien masuk dalam kategori eksaserbasi grade C dimana pasien memiliki faktor risiko terinfeksi P. aeruginosa, memiliki penyakit komorbid.

Levofloxacin dosis tinggi = dosis 750mg efektif pada P.aeruginosa (GOLD, 2006).

4)    Penggunaan makrolida dapat ditujukan pada pasien rawat jalan (PDPI, 2003).
5)    Golongan makrolida saat digunakan pada pasien PPOK dapat mengurangi eksaserbasi. Penggunaan antibiotik dapat memperpendek recovery time, menurunkan risiko terjadinya relaps, meminimalkan durasi opname. Durasi terapi 5-7 hari (evidence B). Penggunaan jangka panjang azithromycin dan erythromycin dapat menurunkan eksaserbasi lebih dari satu tahun (evidence A) (GOLD, 2017).


Alasan Penggunaan antibiotik golongan fluoroquinolon:
1)    Pada pengujian Randomised double-blind, multicentre (n=491) antara penggunaan ciprofloxacin 500mg sekali per hari (selama 14 hari) dengan clarithromycin 500mg dua kali sehari (selama 14 hari), efek eradikasi bakteri lebih tinggi pada ciprofloxacin (Wilson, Sethi, Anzueto, and Miravitlles, 2013).

2)    Pada pengujian Randomised double-blind, multicentre (n=511) antara penggunaan levofloxacin 500mg sekali per hari (selama 7 hari) dengan clarithromycin 250mg dua kali sehari (selama 10 hari), penurunan eksaserbasi kedua grup adalah sama namun efek eradikasi bakteri lebih tinggi pada levofloxacin (Wilson, et al, 2013).

b.    Terapi untuk Cor Pulmonale:
1)    Cor pulmonale merupakan bentuk perpanjangan penyakit akibat hipertensi pulmonari yang menyebabkan perubahan pada struktur atau fungsi dari ventrikel kanan. Terapi oksigen jangka panjang dapat menurunkan angka kejadian hipoksemia pada pasien dengan COPD (Bhattacharya, 2004).
2)    Penggunaan terapi oksigen jangka panjang merupakan pengobatan terbaik untuk hipertensi pulmonari (Weitzenblum, 2003).
3)    Diuretik dapat mengembalikan fungsi ventrikel kiri dan kanan pada pasien dengan significant volume overload of the right ventricle (Bhattacharya, 2004). Diuretik yang sering digunakan adalah furosemide (Weitzenblum, 2003). Pada beberapa pasien dengan CHF berat penggunaan furosemide oral (40-160mg/hari) dapat menurunkan gejala CHF. Namun pada penggunaan dosis >80mg harus dimonitoring fungsi renal dan kadar elektrolit dalam tubuh (Davies, Gibbs, Lip, 2000).
4)    Agen vasodilator seperti diltiazem (120-720mg/hari PO sustained release) dan nifedipin (30-240mg/hari PO sustained release) dapat menurunkan tekanan arteri pulmonari (Bhattacharya, 2004).
Perbedaan Terapi pada gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri:

1)    Gagal jantung kiri terapinya antara lain:
a)    Digoksin

b)    ACEI harus diberikan pada semua pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤40% (PERKI, 2015).

c)    Penyekat β memperbaiki fungsi ventrikel dan kualitas hidup, mengurangi perawatan di rumah sakit akibat perburukan gagal jantung (PERKI, 2015).

d)    ARB direkomendasikan pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤40%. ARB direkomendasikan jika pasien intoleran dengan golongan ACEI (PERKI, 2015).

e)    Hidralazin dan ISDN

f)     Diuretik dapat mengembalikan fungsi ventrikel kiri dan kanan pada pasien dengan significant volume overload of the right ventricle (Bhattacharya, 2004).


2)    Gagal jantung kanan terjadi saat resistensi aliran darah dari jantung kanan menuju paru atau saat katup trikupsid (yang memisahkan atrium kanan dan ventrikel kanan) tidak berfungsi dengan baik. Gejala utama adalah edema dan nokturia. Terapinya adalah:
a)    Diuretik dapat mengembalikan fungsi ventrikel kiri dan kanan pada pasien dengan significant volume overload of the right ventricle (Bhattacharya, 2004).


c.    Mengapa ICS tunggal tidak disarankan untuk pasien PPOK?
1)    ICS memiliki efek samping yang potensial yang dapat meningkatkan prevalensi oral and laryngeal candidiasis, perubahan pada suara, dan pneumonia. Efek ini akan lebih parah jika diberikan dalam dosis yang rendah (Moitra, 2017).
2)    Kombinasi ICS dan LABA telah terbukti lebih efektif pada pasien dengan tingkat keparahan PPOK sedang sampai sangat berat dibandingkan jika pemebriannya tunggal (Moitra, 2017). Pada penelitian RCT kombinasi ICS dann LABA lebih efektif dalam mengurangi eksaserbasi COPD daripada ICS atau LABA monoterapi (Cyr, Beauchesne, Lemiere, Aaron, and Blais, 2010).
3)    Kombinasi terapi ICS dan LABA dapat memperbaiki fungsi paru, status kesehatan, dan eksaserbasi (Moitra, 2017).

Saran Pemilihan Terapi: ICS kombinasi LABA.

Daftar Pustaka
Bhattacharya, A., 2004, Cor Pulmonale, JIACM, 5, 2, 128, 134, 135-136.
Cyr, M., Beauchesne, M., Lemiere, C., Aaron, S.D., and Blais, L., 2010, Effects of Inhaled Corticosteroids in Monotherapy or Combined with Long-Acting β2-Agonist on Mortality Among Patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease, The Annals of Pharmacotherapy, 44, 614.
Davies, M.K., Gibbs, C.R., and Lip, G.Y.H., 2000, ABC of Heart Failure: Management Diuretics, ACE Inhibitors, and Nitrates, BMJ, 320, 428.
ESC, 2016, 2016 ESC Guidelines for The Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart Failure, European Heart Journal, 37, 2135, 2147, 2151.
GOLD, 2006, Global Strategy for The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease, MCR Vision Inc, pp. 66, 67.
GOLD, 2017, Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management, and Prevention: A Guide for Health Care Professionals, Gold Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease Inc, pp. 14, 15, 19, 20, 37.
Moitra, S., 2017, Corticosteroid Administration in COPD: Summary of The Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) Guidelines 2017, Lung Dis Treat, 3, 2, 1.
PDPI, 2003, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia, pp. 9, 11, 20, 22, 23.
PERKI, 2015, Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung, Edisi 1, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, p. 16, 17, 20, 21, 22, 23, 24, 25.
Weitzenblum, E., 2003, General Cardiology Chronic Cor Pulmonale, Heart, 89, 229, 230.
Wilson, R., Sethi, S., Anzueto, A., Miravitles, M., 2013, Antibiotics for Treatment and Prevention of Exacerbations of Chronic Obstructive Pulmonary Disease, Journal of Infection, 67, 500.

Kamis, 24 September 2015

terapi komplementer untuk gastritis



MAKALAH TERAPI KOMPLEMENTER
UNTUK PENYAKIT GASTRITIS


 
Disusun oleh:

Antonia Adeleide Anutopi, S. Farm                               15 8115 049



PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015




I.                   PENDAHULUAN
A.     Definisi Gastritis
Gastritis adalah istilah umum yang mengindikasikan peradangan lapisan mukosa yang sering disebabkan oleh beberapa faktor termasuk alkohol, tembakau, racun-racun, bakteri, dan obat-obatan (contohnya aspirin). Maag atau radang lambung atau tukak lambung atau gastritis adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan adanya asam lambung yang berlebihan atau meningkatnya asam lambung. Gejala yang terjadi yaitu perut terasa perih dan mulas (Jusup, 2010).
Lambung terdiri atas beberapa lapisan mulai dari lapisan dalam sampai lapisan luar, yaitu lapisan mukosa, sub mukosa, muskularis eksterna dan serosa. Mucus melapisi mukosa lambung merupakan suatu rangka proteksi utama bagi dinding lambung (Atmaja, 2008).
Volume ssam lambung yaitu berkisar 1,5-2 liter/hari dengan kisaran pH 1,5-3,4. Asam lambung mengandung elektrolit (H+, Cl, K+, Na+), mucus (melindungi mukosa), lipase dan amilase, pepsin, renin, faktor intrinsik (membantu absorbs vitamin B12), histamin, serta HCl.
B.     Gejala gastritis
1.      Tidak nyaman sampai nyeri pada saluran pencernaan
2.      Mual
3.      Muntah
4.      Lambung terasa penuh
5.      Kembung
6.      Bersendawa
7.      Cepat kenyang
8.      Perut keroncongan
9.      Sering kentut                                                                            (Misnadiarly, 2009).
C.     Klasifikasi gastritis berdasarkan waktu terjadinya
1.      Gastritis akut, disebabkan oleh obat-obatan (aspirin, obat anti inflamasi nonsteroid/AINS, dan steroid), alkohol, trauma, luka bakar, sepsis, merokok, mencerna asam atau alkali kuat.
2.      Gastritis kronis, pada umunya belum dikethui penyebabnya namun sering dijumpai bersama dengan penyakit lain (anemia dan gondok), adanya infeksi pada lambung dan usus 12 jari oleh bakteri Helicobacter Pylori.
Gastritis kronik dapat diklasifikasikan sebagai tipe A dan tipe B.
a.       Tipe A, sering disebut sebagai gastritis autoimun. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung.
b.      Tipe B, kadang disebut dengan gastritis H. pylory. Tipe B ini sering dihubungkan juga dengan factor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan alcohol dan obat-obatan, merokok atau refluks isi usus ke dalam lambung                                                                                          (Jusup, 2010)
D.     Epidemiologi
Pola kunjungan rawat jalan puskesmas dari tahun ke tahun menunjukkan pola yang hampir sama. Beberapa catatan penting dikaitkan dengan kunjungan rawat jalan di puskesmas adalah munculnya berbagai penyakit tidak menular yang semakin tinggi. Menurut survei aksesibilitas JPK Gakin DIY pada tahun 2008, Gastritis menempati urutan ketiga pada kunjungan rawat jalan pasien JPK Gakin di Puskesmas (Dinkes Prov. DIY, 2009).
E.      Faktor-faktor penyebab gastritis
1.      Gangguan secara fungsional karena kerja dari lambung yang tidak baik. Hai ini berhubungan dengan gerakan lambung yang berkaitan dengan sistim saraf di lambung (faktor psikologis). Stres (faktor psikologi) akibat sistem saraf otak yang berhubungan dengan lambung mengalami perubahan hormonal dalam tubuh sehingga merangsang sel-sel dalam lambung untuk meproduksi asam secara berlebihan.
2.      Gangguan struktur anatomi, bisa terjadi karena luka                   (Jusup, 2010).
F.      Terapi komplementer untuk gastritis
Pengobatan dengan herbal/obat tradisional untuk penderita gastritis, antara lain pisang raja, kunyit, dan tanaman lidah buaya. Pisang raja dan kunyit bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka pada saluran pencernaan karena tanaman mengandung senyawa yang mampu menutup luka pada lambung dan usus yang merupakan benteng pertahanan bagi saluran penecernaan ketika menghadapi serangan erosi asam lambung (Misnadiarly, 2009).
Lidah buaya memiliki peran dalam proses penyembuhan gastritis. Gel lidah buaya dapat membantu proses metabolism, mengurangi mikroorganisme dalam perut, menetralkan keasaman perut dan dapat menghilangkan sembelit (Purbaya, 2003).
Menurut Syam (2006) yang dikutip oleh Subekti dan Utami (2011), secara umum 80 persen penyakit tukak lambung termasuk jenis fungsional, yaitu tidak diakibatkan kelainan pada saluran pencernaan melainkan disebabkan oleh stress, kurang tidur, dan beban pekerjaan. 20 persen sisanya termasuk organik, yaitu ada kelainan pada organ pencernaan, seperti luka pada lambung. Relaksasi merupakan salah satu intervensi psikologis yang dapat diterapkan pada gangguan psikologis seperti phobia dan stress.

 II.                PEMBAHASAN
A.     Penyembuhan dengan kunyit
Taksonomi tanaman :
Kingdom       : Plantae
Divisi             : Spermatophyta
Sub divisi       : Angiospermae
Kelas            : Monocotyledonae
Ordo             : Zingiberales
Famili            : Zingiberaceae
Genus            : Curcuma
Spesies          : Curcuma domestica                                               (Rukmana, 1995)
Bagian kunyit yang ampuh untuk menyembuhkan luka saluran cerna adalah rimpangnya yang berwarna oranye. Rimpang kunyit mengandung minyak atsiri berwarna kuning jingga dan merupakan campuran kurkumin, monodesmentoksi kurkumin, dan bidesmetoksi kurkumin (Misnadiarly, 2009).
Dalam penyembuhan tukak saluran pencernaan, rimpang kunyit bekerja dengan menghambat pembentukan tukak lambung (Misnadiarly, 2009).
Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa mekanisme dari curcumin sebagai antiulserasi yaitu dengan cara menghambat efek pada sekresi asam lambung, cytoprotection, aktivitas antioksidan, dan menghambat degranulasi dari sel mast masih perlu dilakukan evaluasi kembali (Yano et al., 2000). Walaupun kurkumin memiliki efek anti inflamasi dengan cara memblok jalan dari asam arakidonat, kurkumin juga mampu memberikan efek yang dapat mencegah pembentukan lesi pada lambung (Ammon, Safayhi, Mack, and Sabieraj, 1993). Efek ini juga dilaporkan oleh beberapa peneliti yang menyatakan bahwa kurkumin dapat menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan mekanisme pada pembentukan inflamasi pada ulkus (Jobin et al., 1999).
B.     Penyembuhan dengan Pisang Raja
Taksonomi tanaman :
Kingdom       : Plantae (tumbuhan)
Divisi             : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas            : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo             : Musales
Famili            : Musaceae
Genus            : Musa
Spesies          : Musa paradisiacal var. Raja
 Pisang biasanya secara tradisional digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit antara lain, diare (pisang mentah), disentri, lesi pada saluran pencernaan (ulcerative colitis), diabetes (pisang mentah), sariawan, uremia, nefritis, gout, hipertensi, dan penyakit jantung. Penelitian lain menyebutkan, pisang dapat digunakan sebagai anti inflamasi, mengatasi nyeri, dan sebagai antidote pada gigitan ular (Imam and Akter, 2011). Bagian pisang yang berfungsi sebagai antiulser yaitu pada buah, kulit buah, daun, akar, dan pseudostem (berbatang semu) dari pisang itu sendiri (Kappel et al., 2013).
Ekstrak etanol dari buah pisang raja dilaporkan dapat meningkatkan akumulasi eiconosoids senyawa yang mirip prostaglandin PGE dan PGI2 serta leukotrien pada organ yang berbeda yang mengindikasikan dapat beraktivitas antitukak. Mekanisme pengobatan tukak lambung pisang raja yaitu dengan cara memberi perlindungan pada mukosa lambung (Wahyuningsih, 2012). Pectin yang sering ditemukan pada daging buah dan phosphatidylcholine pada pisang yang berwarna hijau dapat memberikan perlindungan pada lapisan mukosa dari gastritis (Imam et al., 2011).
Daging buah pisang raja mempunyai kemampuan merangsang pembentukan lendir dalam saluran pencernaan. Hasilnya, lapisan lendir di permukaan saluran pencernaan semakin tebal. Dengan begitu, permukaan  saluran pencernaan akan terlindungi dari erosi asam lambung. Serbuk daging buah pisang raja juga memiliki kemampuan mempercepat penyembuhan tukak dengan cara mempengaruhi proses pembelahan sel-sel jaringan pada luka (Wahyuningsih, 2012).
Flavanoid dan leucocyanidin pada daging buah pisang raja yang mentah berfungsi untuk melindungi mukosa lambung dari erosi asam lambung. Leucocyanidin dan analog sintesisnya (hydroxyethylated leucocyanidin dan tetraallyl leucocyanidin) ditemukan dapat melindungi mukosa lambung dari penginduksian aspirin yang diujikan pada tikus. Dosis serbuk dari daging buah yang diadministrasikan pada tikus untuk menurunkan produksi asam lambung yang berlebihan yaitu sebesar 0,5g/kg BB 2 kali sehari selama 3 hari (Imam et al., 2011).
C.     Penyembuhan dengan Lidah Buaya
Taksonomi tanaman lidah buaya
Kingdom    : Plantae
Divisi          : Angiospermae
Kelas         : Monocotyledoneae
Bangsa       : Liliales
Suku          : Liliaceae
Marga        : Aloe
Jenis           : Aloe vera                   (Hutapea, 1993).
Alasan mengapa lidah buaya dipercaya memiliki peran dalam proses penyembuhan gastritis diantaranya enzim alliase, alkaline phosphatase, amylase, carboxypeptidase, catalase, cellulose, lipase, dan peroxidase yang terkandung di dalam gel lidah buaya yang dapat membantu proses metabolime, mengurangi mikroorganisme dalam perut, menetralkan keasaman perut dan dapat menghilangkan sembelit. Kemudian mengandung vitamin B1, B2, B6, C, mineral, asam amino, asam folat, dan zat-zat lainnya yang penting dalam proses penyembuhan gastritis (Purbaya, 2003).
Bukti perintis menunjukkan bahwa manfaat dari mengambil 25-50 mL gel lidah buaya dua kali sehari, menunjukkan pengurangan sakit maag. Tahun 2004 dalam “Journal of Ethnopharmacology” ditemukan bahwa tanaman lidah buaya dapat menghambat sekresi asam lambung dan melindungi lambung terhadap lesi mukosa. Karena tanaman lidah buaya bersifat pahit, maka dianjurkan untuk mengolahnya menjadi minuman yang lebih menarik dan mudah untuk dikonsumsi seperti jus.
Berikut adalah cara mengolah tanaman lidah buaya agar menjadi jus yang enak untuk dinikmati.
1.      Bahan:
a.       Lidah buaya ukuran besar sebanyak 2 batang
b.      Daun pandan 1 lembar
c.       Air secukupnya
d.      Madu lebah (randu) secukupnya
2.      Cara pengolahan
a.       Cuci bersih tanaman lidah buaya. Lepaskan kulit lidah buaya. Ambil dagingnya, lalu potong sesuai selera.
b.      Cuci hingga tidak berlendir dan tiriskan.
c.       Untuk menghilangkan bau lidah buaya yang tidak sedap dan mengecilkan pori-pori lidah buaya agar tidak hancur, ambil daun pandan dan masak bersama air. Setelah masak, angkat dan diamkan sekitar 2 menit. Masukan potongan lidah buaya dan aduk hingga merata.
d.      Diamkan selama 5 menit. Tiriskan dan pisahkan air daun pandan dan lidah buaya. Masukkan dalam toples berbeda. Simpan dalam lemari es.
3.      Cara membuat jus
a.       Ambil lidah buaya yang sudah diolah sesuai selera ke dalam gelas
b.      Masukan air daun pandan, madu randu, dan es batu ke dalam blender hingga berbusa. Lalu campurkan ke dalam gelas yang telah berisi lidah buaya.
Efek samping dari penggunaan tanaman lidah buaya secara oral yaitu dapat menyebabkan kram perut, diare, urin berwarna merah, hepatitis, dan konstipasi. Jika digunakan dalam jangka waktu yang lama, dapat meningkatkan resiko kanker colorectal. Efek laxative dalam tanaman lidah buaya yaitu dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit (menurunkan kadar potassium). Selain itu, untuk penggunaan pada ibu hamil dan menyusui sangat tidak dianjurkan (Rajeswari, Umadevil, Rahale, Pushpa, Selvavenkadesh, Kumar, et al., 2012).
D.     Metode relaksasi
Tujuan relaksasi diberikan kepada pasien tukak lambung adalah untuk memberikan sebuah teknik mengembangkan perasaan rileks ketika pasien mengalami serangan rasa sakitnya. Setelah melakukan latihan relaksasi beberapa sesi maka seseorang akan mampu menjadi rileks dengan relatif lebih cepat dan waktu yang singkat bahkan tanpa bantuan terapis (Subekti dkk, 2011).
Teknik relaksasi yang sering digunakan yaitu teknik relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi otot progresif atau progressive muscle relaxation merupakan terapi relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan melemaskan otot-otot pada satu bagian tubuh untuk memberikan perasaan relaksasi secara fisik. Gerakan ini harus dilakukan secara berturut-turut.
Teknik relaksasi:
1.      Latihan bernafas:
a.       Berdiri dan jarakkan kaki dan longlaikan tangan
b.      Pejamkan mata dan biarkan kepala tunduk ke hadapan
c.       Tarik nafas perlahan-lahan melalui hidung sepuas-puasnya
d.      Tahan nafas seketika
e.       Hembus nafas perlahan-lahan melalui hidung
f.        Ulangi langkah di atas hingga anda merasa tenang
g.       Akhirnya membuka mata secara perlahan-lahan
2.      Relaksasi otot
a.       Duduk diatas kursi yang bisa untuk bersandar dan pejamkan mata
b.      Genggam sebelah tangan dengan kuat selama beberapa saat dan tumpukkan perhatian kepada ketegangan di tangan
c.       Lepaskan genggaman perlahan-lahan dan rasakan ketegangan itu hilang perlahan-lahan.

 Daftar Pustaka
Ammon, H.P.T., Safayhi, H., Mack, T., and Sabieraj, J., 1993, Mechanism of Anti-inflammatory Actions of Curcumin and Boswellic Acids, J. Ethnopharmacol., 38 (2), 113-119.
Atmaja, D.A., 2008, Pengaruh Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) terhadap Gambaran Mikroskopik Mukosa Lambung Mencit BALB/c yang diberi Parasetamol, Artikel Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Dinas Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta, 2009, Profil Kesehatan Provinsi D.I.Yogyakarta tahun 2008, Dinas Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta, Yogyakarta, p. 32.
Hutapea, J.R., 1993, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (II), Departemen Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
Imam, M.Z., and Akter, S., 2011, Musa paradisiacal L. and Musa sapientum L. : A Phytochemical and Pharmacological Review, JAPS, 01 (05), 15-16.
Jobin, C., Bradham, C.A., Russo, M.P., Juma, B., Narula, A.S., Brenner, D.A., et al., 1999, Curcumin Blocks Cytokine Mediated NF-KB Activation and Proinflammatory Gene Expression by Inhibiting Inhibitory Factor I-KB Kinase Activity, J. Immunol., 163 (6), 3474-3483.
Jusup, L., 2010, Fit for Life Masakan Sehat dan Lezat untuk Penderita Gastritis (Tukak Lambung/Maag), PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, p. 7.
Kappel, V.D., Cazarolli, L.H., Pereira, D.F., Postal, B.G., Madoglio, F.A., Buss, Z.S., et al, 2013, Beneficial Effects of Banana Leaves (Musa x paradisiacal) on Glucose Homeostasis: Multiple Sites of Action, Rev. Bras. Farmacogn. Braz. J. Pharmacogn., 23 (4), 706.
Misnadiarly, 2009, Mengenal Penyakit Organ Cerna (Gastritis atau Penyakit Maag), Edisi 1, Pustaka Populer Obor, Jakarta, pp. 24-25, 93-96.
Purbaya, J.R., 2003, Mengenal & Memanfaatkan Khasiat Aloe Vera, CV. Pionerjaya, Bandung.
Rajeswari, R., Umadevil, M., Rahale, C.S., Pushpa, R., Selvavenkadesh, S., Kumar, K.P.S., et al., 2012, Aloe vera: The Miracle Plant Its Medicinal and Traditional Uses in India, Phytojournal, 1 (4), 123-124.
Rukmana, R., 1995, Kunyit, Kanisius, Yogyakarta, p. 13.
Subekti, T., dan Utami, M.S., 2011, Metode Relaksasi untuk Menurunkan Stres dan Keluhan Tukak Lambung pada Penderita Tukak Lambung Kronis, Jurnal Psikologi, 38 (2), 148, 150.
Wahyuningsih, I., 2012, Formulasi Tablet Serbuk Pisang Raja (Musa xparadisia AAB) sebagai Penutup Tukak Lambung pada Tikus, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 2 (1), 56-57.
Yano, S., Terai, M., Shimizu, K.L., Futagami, Y., Horie, S., Tsuchiya, S., et al, 2000, Antiallergic activity of Curcuma longa (II) Features of Inhibitory Actions on Histamine Release from Mast Cells, Nat. Med., 54 (6), 325-329.